Senin, 18 Agustus 2014

Pendakian Puncak Atas Angin, Rahtawu Kudus



Puncak Atas Angin, Kudus
Alhamdulillah..  Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 2014 saya dan saudara-saudara sepupu  saya berhasil menaklukkan puncak natas angin yang lokasinya berada di desa Rahtawu, kecamatan Gebog Kabupaten Kudus Jawa tengah.

Semula rencana pendakian puncak atas angin ini hanya sebagai batu pijakan atau sekedar pelampiasan semata, karena keinginan untuk  mendaki ke puncak gunung merbabu tidak kesampaian karena terkendala waktu dan juga factor Financial. Akhirnya saya putuskan mengajak keponakan dan sepupu untuk mendaki puncak Atas angin. Dan delapan personel pendakian ATAS ANGIN dadakan yaitu: tiga sepupuku yang pemberani Hamzah, Mubarok, Salis dua orang keponakan dan calon keponakan si Kholid dan putra serta dua teman mereka Najib dan Riyan Akhirnya siap melakukan pendakian untuk menaklukkan Puncak Atas Angin.

Persiapan
Namanya juga Pendakian mendadak, persiapan pun serba mendadak tanpa membawa tenda, penerangan seadanya, Logistik pun serta seadanya dan lebih parah lagi selain hanya membawa air mineral 3 Botol untuk delapan orang lebih parah lagi Kholid keponakanku yang Lumayan ganteng meski agak hitam sih.. hanya memakai sandal jepit yang kanan berwarna biru dan kirinya berwarna kuning yang akhirnya harus ia tinggalkan di tengah-tengah pendakian karena sandal tadi tidak cukup kuat untuk menahan berat badannya yang lumayan gede (90kg kira-kira) dan juga karena memang bebatuan yang lumayan terjal.


Pendakian
Dan petualangan kini dimulai, sembari menunggu kedatangan tim pendakian berkumpul saya sarankan untuk ziarah terlebih dahulu ke makam Sunan kalijaga Demak, sementara saya menunggu dikudus. Tepat pukul 22.50 semua personil sudah berkumpul dikudus dan langsung menuju Desa Rahtawu, yang berjarak kira-kira  22km dari Kota kudus. Namun karena kurang focus atau memang agak sedikit lupa kami salah jalur dan malah menuju tempat parkir yang menuju ke Sapto renggo atau puncak Songolikur, dan akhir kami harus putar balik kembali ke bawah menuju gerbang pertapaan eyang Abiyoso dan kira-kira pukul 23.40WIB kami memulai petualangan sesungguhnya,  dan untuk mengurangi rasa lelah ketika mendaki dengan berJalan kaki kami sela dengan sedikit canda dan sambil tertawa ringan, namun Alam tetap tak bisa dikelabui, yang namanya perjalanan menanjak tetaplah akrab dengan nafas ngos-ngosan dan rasa capek pun kerap hinggap setiap saat, setiap berjalan kira-kira 10-15 menit pasti berhenti sejenak, meski kadang tiba-tiba terdengar dengan begitu merdu suara dengkuran sepupuku si barok disela-sela istirahat kami.. Hehe..
 Setelah berjam-jam berjalan kaki akhirnya kami tiba dipuncak kira-kira pukul 04.20WIB dan seraya menunggu shalat shubuh sebagian besar dari kami merenggangkan persendian yang sedari tadi belum sempat menumpahkan hasrat untuk istirahat dan begitu matahari mulai menyingsing kami baru tahu ternyata kami belum sampai kepuncak yang kami tuju, ternyata baru sampai ke puncak gunung Sapto Argo atau pertapaan eyang Abiyoso, ketika melihat ekspresi kelelahan begitu lekat diwajah teman-teman sejenak kami musyawarah antara melanjutkan perjalanan sampai ke puncak Atas angin atau cukup sampai ke Abiyoso saja? Namun nampaknya keindahan panorama disekitar dan ditambah suasana Sunrise yang meski sedikit terhalang oleh puncak Songolikur akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah sempat ber-selfie-ria sejenak tentunya, dan saking asyiknya mengabadikan moment di Abiyoso kami kehilangan dua anggota  kami yang ternyata sudah melanjutkan naik ke natas angin terlebih dahulu.

Sensasi perjalanan Atas Angin.

Semula saya sendiri sempat merasa ragu dengan tantangan dari puncak Atas Angin karena hanya memandang dari segi ketinggian yang hanya sekitar 1600-an mdpl, namun begitu saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan dari Sapto argo atau pertapaan begawan Abiyoso menuju puncak Atas Angin yang konon adalah pertapaan eyang begawan Wisnu dan eyang begawan Dewa ruci barulah saya merasakan sensasi yang tak mungkin terlupakan, medan pendakian yang berupa jalan setapak dengan luas jalan yang tak lebih dari satu meter dan dikanan-kiri berupa tebing yang sangat curam serasa berjalan diatas tembok selebar setengah meter diatas awan, apalagi dengan medan pendakian dengan kemiringan mencapai diatas 80 derajat memaksa kami harus berjalan sambil merangkak.

Ekstrim itulah kesan pertama yang kami rasakan dari pendakian Atas Angin, walau ketinggian hanya 1600-an mdpl namun sensasi yang kami rasakan lebih menantang dari pendakian gunung lain dengan ketinggian diatas 3000mdpl. Apalagi ketika turun, bisa anda bayangkan menuruni tebing dengan kemiringan diatas 80 derajat mau tidak mau ngesot adalah alternative terbaik daripada kita harus mengambil resiko jungkir balik, tapi tenang ada jalur memutar ketika anda turun dari puncak Atas Angin tapi jarak tempuh yang memakan waktu lebih lama kira-kira hampir satu jam untuk kembali ke puncak sapto argo (Abiyoso). Kira-kira 2 jam kami sampai ke pucak Atas Angin dan bertemu dengan para pendaki ada pendaki komunitas Reggae dengan gaya khas rambut gimbalnya yang dari Tayu pati, ada yang dari semarang dan ada juga pendaki dari Lampung, Sumatra yang datang lebih awal dari kami.
Turun gunung
Setelah sejenak bertegur sapa dengan para pendaki yang lain, menikmati secangkir kopi dan mata kami sudah merasa kenyang dengan secuil keindahan dari sang maha indah yang tersaji dari puncak Atas Angin, kami putuskan untuk turun dari puncak. Melihat medan yang begitu ekstrim saya tidak mau memaksa untuk melewati jalur yang kami lewati tadi, sebagian lewat jalur semula dan sebagian lewat jalur memutar yang lebih lama dan bertemu di sapto argo.
 Begitu sampai di sapto argo kami mampir sejenak untuk menikmati secangkir kopi diwarung pak Lasdi, sembari menunggu kedatangan Kholid dan Riyan yang memilih jalur memutar. Dan benar ternyata setelah lebih dari setengah jam kopi dan mie instan yang kami pesan dari istri pak lasdi sudah habis, Kholid dan Riyan baru terlihat bersama rombongan pendaki dari Lampung.
Dari Sapto argo kami turun, perjalanan yang harusnya memakan waktu kira-kira satu setengah jam dari Abiyoso menuju Parkiran di rahtawu terpaksa harus molor karena kami memutuskan untuk mampir sejenak disungai untuk mandi, dan setelah puas merendam diri disela-sela bebatuan kami turun dan sampai ditempat parkiran kira-kira jam 13.30WIB dan dilanjutkan ziarah ke makam Sunan Kudus.
Sejenak kami larut dalam lantunan dzikir tahlil kami lanjutkan acara ngopi bareng di alun-alun simpang tujuh kudus untuk mencairkan suasana dan sedikit mengurangi rasa lelah sebelum akhirnya pulang kerumah.

Cukup sekian dulu pengalaman kami dari pendakian puncak Atas Angin (natas angin).

untuk melihat profil tim pendaki dadakan kami silahkan klik link dibawah ini.
Summiter Crew:
- Mas Miftah
- Salis Hasanah
- Abdullah Mubarok
- Kholid Abdurrohim
- Putra Kurniawan
- Riyan jelek

Tidak ada komentar:

Posting Komentar