Politik dan Budaya

TENTANG PERUBAHAN KIBLAT MASJID AGUNG DEMAK

MENARIK membaca artikel Ahmad Rofiq berjudul ”Kiblat Masjid Agung Demak” (SM, 13/01/12). Memang, ada pertarungan antara logos (ilmu) dan mitos (keyakinan masyarakat) di seputar diskursus arah kiblat Masjid Agung Demak. Pertanyaan tentang sumber ilmu menjadi sangat penting. Apakah arah kiblat hanya bisa ditentukan oleh ilmu dan ahli falak? Ataukah ada sumber lain, misalnya intuisi atau keyakinan.

Jika seseorang ditanya, apa dasar shalat menghadap ke arah kiblat? Jawaban yang tepat adalah firman Allah dalam QS, 2: 144, dan bukan berdasarkan perhitungan arah kiblat oleh ahli falak, teodolit, global positioning system (GPS) dan sebagainya. Ahli dan kecanggihan alat berposisi sebagai mujtahid dan alat bantu penentuan arah kiblat.

Ahli falak  menjadikan alat canggih yang diramu dalam ilmu falak sebagai satu-satunya sumber menentukan arah kiblat. Padahal Tuhan saja tidak secara pasti menyatakan bahwa yang shalat tidak tepat menghadap Kakbah hukumnya batal. Karena itu, perlu ada koreksi sikap ahli falak terhadap masalah penentuan arah kiblat ini.

Pertama; jangan pernah menyatakan shalat seseorang tidak sah hanya karena arah kiblatnya tidak sesuai dengan perhitungan astronomis. Kedua; arah kiblat adalah produk dari ijtihad ahli falak. Ia mungkin benar, bisa pula salah (kualitas dhann). Hasil ijtihad itu tidak bisa dipaksakan berlakunya untuk seluruh orang. Ketiga; harus ada pengakuan dari ahli falak bahwa ilmu falak adalah salah satu dan bukan satu-satunya cara menentukan arah kiblat. Walisongo mungkin punya cara tersendiri dalam mengukur arah kiblat Masjid Demak.

Pada dasarnya, antara logos dan mitos sama-sama mengidap penyakit kronis: sikap arogan dalam dirinya. Arogansi ilmu bisa dalam bentuk merasa paling benar, paling penting, dan paling berperan dalam hidup ini. Hampir semua ilmu itu sombong. Celakanya  kesombongan itu telah ditanam sejak masa pembentukannya (filsafat ilmu).

Dalam masalah agama, jangankan ahli falak, malaikat saja tidak punya hak untuk menolak atau menerima ibadah seseorang hanya karena salah satu syaratnya kurang. Arah kiblat menjadi dakik dan mbulet karena arogansi keilmuan ahli falak. Padahal inti dari pengukuran arah kiblat sebenarnya sangat sepele: geser saja arah saf atau sajadah ke arah yang benar.

Mitos Kiblat

Hal yang sama juga terjadi pada ahli mitos. Mereka ini yakin tetapi yakin yang tidak bisa diuji keyakinannya. Keyakinan itu berdasarkan cerita-cerita masa lalu yang juga tidak jelas akurasinya. Apalagi ada kepentingan politik keagamaan dan mungkin bisnis di seputar Masjid Demak. Gara-gara pendapat kiblat Masjid Demak melenceng, reputasi masjid Demak sebagai tujuan ziarah bisa merosot tajam.

Mungkin, tidak atau belum ada ilmu yang bisa menjangkau mengapa Walisongo menetapkan arah kiblat Masjid Demak lurus ke barat? Tetapi jangan merasa sudah pasti Walisongo benar dalam menghitung arah kiblat.
Saya menduga, Walisongo meyakini betul bahwa melaksanakan agama jangan dipersulit. Pada waktu itu belum ada teodolit, GPS, atau google earth. Ahli falak juga mungkin belum banyak. Jika masa itu diadili dengan ilmu sekarang, jelas tidak sebanding. Walisongo justru harus diberi aplaus gemuruh karena berhasil menentukan arah kiblat Masjid Demak yang melenceng ”hanya” 12 derajat tanpa alat canggih.

Bagi saya, arah kiblat itu masalah sederhana. Penyelesaiannya sangat simpel: menggeser saf atau sajadah. Bagaimana caranya? Boleh menggunakan konsensus ilmu falak atau ilmu mitos. Keduanya adalah cara-cara untuk menentukan arah kiblat. Allah SWT pasti menerima shalat seseorang jika dilakukan dengan ikhlas dan khusyuk, sekali pun arah kiblatnya melenceng lebih dari 12 derajat.

- Huda Aly Eljaqoly, Santri dari Demak
- Dr H Abu Rokhmad MA, mantan Kepala Program Studi Magister  Ilmu Falak IAIN Walisongo (SM/20/01/12)
masjid Agung Demak
Musyawarah pengembalian arah kiblat seperti semula